Banjarmasin, Jejakjurnalisonline.com –
Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin mengikuti kegiatan Jumat Taqwa dengan tausiah tentang hikmah Perjanjian Hudaibiyah sebagai bekal menghadapi ujian kehidupan dan membangun masa depan yang lebih baik, Jumat (23/10).
Kegiatan menghadirkan Ustaz M. Taqiyuddin, Lc. dari Kementerian Agama (Kemenag) Kota Banjarmasin sebagai penceramah, didampingi Petugas Subseksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimkemaswat), Salman Farsi.
Dalam tausiah bertajuk Gagal Hari Ini, Menang di Masa Depan: Inspirasi Perjanjian Hudaibiyah untuk Jiwa yang Kecewa, Ustaz M. Taqiyuddin mengajak warga binaan untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Melalui kisah Perjanjian Hudaibiyah, ia mengingatkan bahwa sesuatu yang terasa berat saat ini bisa menyimpan hikmah dan kebaikan di kemudian hari.
Warga binaan juga diajak menjaga prasangka baik (husnuzan) kepada Allah Swt., tidak membandingkan perjalanan hidup dengan orang lain, serta memanfaatkan masa pembinaan untuk memperbaiki ibadah, menambah ilmu, dan mengembangkan keterampilan. Kesabaran, menurut pesan tausiah tersebut, harus disertai ikhtiar nyata untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Petugas Subseksi Bimkemaswat, Salman Farsi, menyampaikan bahwa kegiatan Jumat Taqwa menjadi sarana untuk memperkuat keimanan sekaligus mendorong perubahan perilaku warga binaan.
“Harapannya, warga binaan dapat mengambil hikmah dari tausiah ini dan memanfaatkan masa pembinaan untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, serta mempersiapkan bekal positif ketika kembali ke tengah masyarakat,” ujarnya.
Salah seorang warga binaan berinisial R mengaku mendapatkan pelajaran tentang pentingnya kesabaran dan kemauan untuk berubah.
“Saya belajar bahwa masa lalu tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Selama masih ada kesempatan, saya ingin terus belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.
Secara terpisah, Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa pembinaan keagamaan memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan memperkuat mental warga binaan selama menjalani masa pembinaan.
“Kami berharap kegiatan keagamaan dapat menumbuhkan kesadaran warga binaan untuk memperbaiki diri, menjaga perilaku, dan membangun tekad menjalani kehidupan yang lebih baik. Nilai-nilai yang dipelajari hendaknya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Melalui kegiatan Jumat Taqwa, Lapas Banjarmasin terus mendorong warga binaan menjadikan masa pembinaan sebagai momentum perubahan diri dan persiapan untuk kembali ke tengah masyarakat dengan bekal keimanan serta perilaku yang lebih baik. (Humas Lapas Banjarmasin)

.
.
.
.



















