Banjarmasin, Jejakjurnalisonline.com –
Bunyi kok yang beradu dengan raket terdengar di GOR Bulu Tangkis Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin, Kamis (15/10). Di balik setiap pukulan, langkah kaki, dan upaya mengembalikan kok ke seberang net, tersimpan kesempatan bagi warga binaan untuk menjaga kebugaran sekaligus membangun kebiasaan positif selama menjalani masa pembinaan.
Bagi warga binaan, bulu tangkis bukan sekadar olahraga untuk mengisi waktu luang. Aktivitas ini menjadi ruang untuk bergerak aktif, melatih konsentrasi, serta belajar mengendalikan emosi ketika menghadapi persaingan di lapangan.
Setiap reli menuntut ketepatan, kesabaran, dan kemampuan membaca gerakan lawan. Ketika kok jatuh di luar jangkauan, permainan berlanjut dengan upaya berikutnya. Dari proses sederhana itu, warga binaan memiliki kesempatan untuk belajar tentang kegigihan, menerima hasil, dan menghargai lawan bermain.
Olahraga juga menghadirkan interaksi yang sehat antarsesama warga binaan. Mereka belajar mengikuti aturan permainan, menjaga sportivitas, dan membangun kebersamaan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk perilaku positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa kegiatan olahraga merupakan salah satu sarana pendukung pembinaan yang memberikan manfaat bagi kesehatan fisik sekaligus pembentukan karakter warga binaan.
“Kami mendorong warga binaan untuk memanfaatkan kegiatan olahraga secara positif. Selain menjaga kebugaran, olahraga mengajarkan kedisiplinan, sportivitas, pengendalian diri, dan penghargaan terhadap orang lain. Nilai-nilai ini penting untuk mendukung proses pembinaan dan menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat,” tegas Akhmad Herriansyah.
Melalui kegiatan olahraga bulu tangkis di GOR Lapas Banjarmasin, warga binaan diharapkan dapat memanfaatkan waktu selama menjalani masa pembinaan untuk menjaga kesehatan, mengembangkan kebiasaan positif, dan memperkuat nilai-nilai sportivitas. Sebab, perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana yang dijalani dengan konsisten. (Humas Lapas Banjarmasin)

.
.
.
.


































