Mahasiswa Sosiologi UBB Belajar Membaca Dinamika Masyarakat dan Pertambangan Timah di Desa Pangkal Niur

Berita11 Dilihat

Bangka, Jejakjurnalisonline.com –

Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung (UBB) melaksanakan kegiatan kuliah lapangan Mata Kuliah Sosiologi Masyarakat Pertambangan di Desa Pangkal Niur, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, Minggu 25 Oktober 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Pangkal Niur tersebut diikuti oleh 56 peserta yang terdiri atas dosen dan mahasiswa. Kegiatan mengangkat tema “Membaca Dinamika Masyarakat dan Pertambangan Timah: Aktor, Akses, Konflik, dan Pengelolaan Pertambangan di Tingkat Desa.”

Kehadiran rombongan dosen dan mahasiswa UBB di Desa Pangkal Niur diterima langsung oleh Kepala Desa Pangkal Niur bersama tokoh masyarakat serta komunitas nelayan Sunor Lestari. Pertemuan tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran karena mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan berbagai unsur masyarakat yang memiliki pengalaman dan perspektif terhadap dinamika sosial, ekonomi, lingkungan, serta aktivitas pertambangan di wilayah desa khususnya yang berkaitan dengan aktivitas nelayan di Teluk Kelabat Dalam.

Dosen pengampu Mata Kuliah Sosiologi Masyarakat Pertambangan, Dr. Fitri Ramdhani Harahap, M.Si., mengatakan bahwa interaksi langsung dengan masyarakat merupakan bagian penting dalam pembelajaran sosiologi pertambangan. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami pertambangan melalui teori di ruang kelas, tetapi perlu melihat bagaimana aktivitas pertambangan berhubungan dengan kehidupan masyarakat dan bagaimana berbagai kepentingan bertemu di tingkat lokal.

Kuliah lapangan ini merupakan bagian dari proses pembelajaran kontekstual yang dirancang untuk membawa mahasiswa melihat secara langsung hubungan antara aktivitas pertambangan timah dan kehidupan sosial masyarakat. Pedoman kegiatan menempatkan praktik lapangan sebagai ruang bagi mahasiswa untuk melakukan pengamatan, diskusi, identifikasi kasus, dan analisis terhadap dinamika masyarakat pertambangan di tingkat desa.

Desa Pangkal Niur dipilih sebagai lokasi pembelajaran karena mahasiswa dapat mempelajari secara langsung bagaimana aktivitas pertambangan berkelindan dengan kehidupan masyarakat desa. Dalam perspektif sosiologi, pertambangan tidak hanya dipahami sebagai kegiatan ekonomi dan pemanfaatan sumber daya alam, tetapi juga sebagai ruang sosial yang mempertemukan berbagai aktor dengan kepentingan, sumber daya, akses, dan posisi yang berbeda.

Kehadiran Kepala Desa, tokoh masyarakat, dan komunitas nelayan Sunor Lestari memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh perspektif dari aktor-aktor lokal. Interaksi tersebut menjadi bagian dari proses menggali informasi mengenai kehidupan masyarakat, hubungan masyarakat dengan sumber daya, mata pencaharian, aktivitas pertambangan, serta berbagai dinamika yang berkembang di tingkat desa.

Kegiatan kuliah lapangan menggunakan pendekatan Case Method, dengan menjadikan kondisi nyata di lapangan sebagai kasus pembelajaran yang diamati, dikaji, didiskusikan, dan dianalisis menggunakan konsep-konsep Sosiologi Masyarakat Pertambangan.

Mahasiswa tidak sekadar melakukan kunjungan lapangan, tetapi diarahkan untuk berdiskusi dengan narasumber, mengidentifikasi kasus, kemudian melakukan analisis sosiologis berdasarkan temuan yang diperoleh. Hasil kegiatan selanjutnya dituangkan dalam laporan individu.

Sejumlah konsep menjadi fokus pembelajaran, yaitu masyarakat dan pertambangan, aktor, akses, konflik, pertambangan rakyat, serta kebijakan dan pengelolaan pertambangan. Mahasiswa diarahkan untuk melihat hubungan antara aktivitas pertambangan dengan perubahan pekerjaan, ekonomi rumah tangga, relasi sosial, kehidupan desa, serta penguasaan dan akses terhadap sumber daya.

Pertemuan dengan perwakilan masyarakat Desa Pangkal Niur juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa persoalan sumber daya alam dapat dilihat dari perspektif yang beragam. Bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sumber daya pesisir dan laut, misalnya, keberadaan berbagai aktivitas ekonomi di ruang yang sama dapat memiliki arti dan dampak yang berbeda.

Melalui dialog dengan perwakilan masyarakat dan komunitas nelayan, mahasiswa belajar bahwa analisis sosiologi membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan berbagai perspektif dan memahami posisi masing-masing aktor. Hal ini sejalan dengan tujuan praktik lapangan yang mendorong mahasiswa mengidentifikasi aktor, memahami kepentingan dan posisi mereka, melihat distribusi akses terhadap sumber daya, serta mengidentifikasi potensi konflik yang berkaitan dengan pertambangan.

Dengan demikian, keberadaan komunitas nelayan Sunor Lestari dalam kegiatan tersebut memperkaya proses pembelajaran mahasiswa, khususnya dalam memahami hubungan antara masyarakat, sumber daya alam, mata pencaharian, dan aktivitas pertambangan dari perspektif masyarakat lokal.

Melalui kuliah lapangan ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pengalaman belajar yang lebih konkret dan kontekstual. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai konsep-konsep sosiologi pertambangan, tetapi juga belajar bagaimana mengumpulkan informasi, membedakan fakta lapangan dan pendapat narasumber, mengidentifikasi persoalan, serta menghubungkan temuan empiris dengan konsep dan teori yang telah dipelajari.

Kegiatan ini juga melatih kemampuan mahasiswa dalam observasi, komunikasi, analisis kasus, berpikir kritis, dan penulisan akademik. Pedoman praktik lapangan menegaskan bahwa mahasiswa harus mampu menghubungkan temuan lapangan dengan konsep seperti aktor, akses, konflik, pertambangan rakyat, relasi sosial, serta kebijakan dan pengelolaan pertambangan.

Bagi Program Studi Sosiologi FISIP UBB, kegiatan semacam ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi juga membangun kemampuan mahasiswa untuk membaca realitas sosial secara kritis, objektif, dan kontekstual.

Kuliah lapangan di Desa Pangkal Niur pada akhirnya menjadi ruang perjumpaan antara kampus dan masyarakat, di mana pengetahuan tidak hanya diperoleh dari buku dan ruang kelas, tetapi juga dari pengalaman, cerita, dan perspektif masyarakat yang berhadapan langsung dengan dinamika pertambangan dan pengelolaan sumber daya di tingkat lokal.

Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan mampu melihat pertambangan bukan semata-mata sebagai persoalan ekonomi, tetapi sebagai fenomena sosial yang melibatkan aktor, kepentingan, akses, relasi kuasa, mata pencaharian, konflik, kebijakan, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat. (**)

banner 470x250 . banner 470x250 . banner 470x250 . .

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *